Senin, 12 Desember 2011

SIAPAKAH BEATA FAUSTINA ITU ? (1)

BEATA FAUSTINA KOWALSKA (1905-1938)

BEATA (Be.) Faustina Kowalska lahir di Polandia Tengah pada tanggal 25 Agustus 1905 sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Dua hari kemudian ia di­permandikan dengan nama Helena. Bapaknya se­orang petani merangkap tukang kayu. Bersama ibunya ia rajin bekerja. Mereka menganggap bekerja keras itu sebagai jalan kepada kesalehan. 

      Ibu dari Helena mendidik anak-anaknya dengan lemah-lembut tetapi tegas. Pasangan suami-istri ini selalu menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Dalam rumah mereka ada peraturan seperti dalam biara yaitu berdoa dan bekerja! Helena hanya mencapai kelas 3 SD. Namun ia seorang anak yang pintar dan rajin. Semboyannya adalah "Biar tahu satu pekerjaan, asal tahu betul".

Sejak kecil Helena suka berdoa, ia tidak puas dengan doa bersama waktu pagi dan malam saja. la sering bangun tengah malam dan berdoa sendiri lama sekali, sampai-sampai ibunya menegurnya. Helena selalu menjawab, "Malaikat Pelindung yang mem­bangunkan aku untuk berdoa." Ketika berumur 9 tahun Helena menerima Sakramen Pengakuan dan Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya. "Riwayat Orang Kudus" adalah buku yang paling suka dibacanya, kemudian ia berjuang sungguh-sungguh meneladani para kudus itu dengan menjadi "katekis" bagi teman-temannya.

Waktu itu, Polandia dijajah oleh Rusia. Keluarga Helena meskipun rajin bekerja, namun tetap miskin. Sebab itu ketika berumur 16 tahun, Helena minta izin pada ibunya untuk diperbolehkan mencari pekerjaan agar dapat menolong orang tuanya. Sebagai pembantu rumah tangga, Helena bersifat taat, rajin, sopan dan teliti. Setahun kemudian ia pulang ke rumah untuk minta izin masuk biara. Bapaknya keberatan karena tak mempunyai uang. Helena menjawab, "Aku tak memerlukan uang, Tuhan Yesus sendiri yang akan berjuang supaya aku masuk biara!"

Namun orang tuanya tetap keberatan, Helena lalu mencari kerja lagi dengan syarat, tiap hari ia bisa hadir Misa, sekali setahun mengikuti retret, dan pada waktu luang mengunjungi orang sakit serta menolong orang miskin. Ketika berdoa di muka Tabernakel, ia selalu mendengar panggilan Tuhan yang akhirnya pada suatu hari pesta, Yesus langsung memanggilnya, lalu Yesus berkata, "Hentikanlah pekerjaanmu sebagai pelayan dan berangkatlah ke Warzawa, agar engkau bisa masuk biara!" Maka pada tanggal 1 Agustus 1925, ia masuk biara Suster Bunda Maria Maharahim.

Seri­kat itu berusaha menolong gadis-gadis dan wanita-­wanita yang kurang baik, yang memerlukan pembaharuan rohani melalui perbuatan belas kasihan dan kerahiman. Pada tanggal 30 April 1926, Helena menerima pakaian biara dan mengenakan nama baru: Sr. Faustina.
  
Tanggal 30 April 1928 Sr. Faustina mengikrarkan kaulnya yang pertama. Dia menulis: "Waktu kaul pertamaku kerinduanku berkobar-kobar untuk meleburkan diri demi Tuhan melalui cinta nyata. Sejak itu jiwaku bergaul dengan Tuhan seperti anak dengan bapa yang tercinta" (B.H.-I, 11). Dan "dengan Yesus aku berjalan ke mana-mana. Kehadiran-Nya ada besertaku" (B.H.-I, 201).

Kewajiban rohaninya dalam biara dijalankannya dengan sungguh-sungguh. Supaya berhasil ia membuat NIAT SECARA TERTULIS: "Latihan rohaniku akan kulaksanakan sedemikian rupa, se­olah-olah aku menjalankan itu untuk terakhir kalinya dalam hidupku. Dengan cara demikian aku mau melaksanakan semua kewajibanku" (B.H.-II, 240).

Sr. Faustina sungguh-sungguh berjuang supaya menjadi biarawati yang bertanggung jawab dan supaya semua orang merasa senang dengan kehadirannya. Pekerjaannya sederhana: di dapur, di kebun atau di pintu sebagai penerima tamu. Ia rela dipindahkan, di mana tenaganya diperlukan. Semuanya itu dijalankannya dalam kerendahan hati.

Tuhan sendiri mempersiapkan dia untuk menerima rahmat yang lebih besar, yaltu rahmat misteri, dan rahmat untuk menerima penampakan Tuhan Yesus Yang Maharahim sejak tanggal 22 Februari 1931. Sr. Faustina sadar, bahwa "Penderitaan adalah rahmat yang besar. Melalui penderitaannya jiwanya menyatukan diri dengan Penyelamat. Dalam penderitaan cinta mengkristal. Makin besar penderitaan, cinta menjadi semakin bersih- (B.H.-I, 23).

Sr. Faustina juga mendapat karunia bisa melihat Malaikat Pelindungnya.
"Ketika aku berjalan dengan kereta api ke kola Krakow, Malaekat Pelindungku duduk dekat aku. Ia berdoa sambil merenung tentang Allah. Dan aku berusaha meneladaninya. Tiba di pintu biara, aku tak melihatnya lagi" (B.H.-I, 202).

Dalam Buku Hariannya pula Ia menyebutkan,
"Ketika aku pulang dari gereja banyak setan menghalangi jalanku. Aku minta bantuan Malaikat Pelindungku, lalu tiba-tiba ia muncul dalam bentuk cahaya dan semua setan lari. Kemudian Malaikatku berjalan bersamaku sampai ke rumah. Dahinya bercahaya bagai sinar api" (B.H.-I, 174). Pada pesta St. Mikhael‑ Malaikat Agung, aku melihat panglima itu berada dekatku. la berkata kepadaku: "Tuhan menyuruhku supaya aku secara khusus melindungimu. Dan engkau harus tahu, bahwa kejahatan membenci engkau. Namun jangan takut! Siapa seperti Allah? Sesudah itu ia menghilang, tetapi aku tetap merasakan kehadirannya dekat aku" (B.H.-II, 142).

Sr. Faustina memperhatikan peraturan liturgi Gereja: "Setiap pesta Gereja memperdalam pengetahuanku tentang Tuhan dan membawa rahmat bagiku. Karena itu aku selalu menyiapkan diri sungguh-sungguh untuk merayakan pesta-pesta itu dalam jiwa Gereja. Betapa gembiranya hidup sebagai anak Gereja yang setia!" (B.H.-I, 199).

BERSAMBUNG ke bagian 2

Disadur dari:
Rasul kerahiman Illahi (Devosi pada kerahiman Illahi)” oleh P. Ceslaus SVD, Mattaloko, Tahun 2003 dengan kutipan isi dari : Buku Harian (B.H.) Beata Faustina, “DZIENNICZEK”, Imprimatur Krak√≥w (27 Februari 1987).

Doa Rosario Kerahiman yang disebarkan oleh Beata Faustina dapat anda peroleh dengan klik: